Oleh: sunarto | Mei 11, 2007

Cyber City, Mungkinkah ?

Pemanfaatan Teknologi Informasi ( TI ) tak dapat dipisahkan dalam era digital sekarang ini. Berkembangnya dunia usaha/industri, hiburan, jasa hingga pendidikan pun tak bisa dilepaskan dari ’ jasa ’ TI ini. Sejak ditemukannya internet oleh ARPANET ( Advanced Research Project Agency ) untuk keperluan militer pada tahun 1969 di Amerika Serikat yang pada konsepnya awalnya merupakan merupakan suatu jaringan komputer, yang mana suatu paket informasi dapat dikirim dari suatu komputer ke komputer yang lain. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pemindahan berbagai data penting apabila terjadi perang. Pada perkembangannya kemudian Internet digunakan oleh kalangan akademis (UCLA) untuk berbagai keperluan penelitian dan pengembangan tehnologi. Dan baru setelah itu Pemerintah AS memberikan ijin ke arah komersial pada awal tahun 1990.

Kendala Penetrasi Internet

Saat ini untuk membangun sebuah Wide Area Network (WAN) di sebuah kota/kabupaten dapat dikatakan cukup sulit, namun bukan hal yang tidak mungkin. Banyumas misalnya dengan jumlah penduduk lebih dari 1,5 juta jiwa dengan kondisi geografisnya yang cukup luas sebenarnya masih memungkinkan untuk dibuat ”Banyumas Cyber City”. Secara geografis di wilayah barlingmascakeb pun sebenarnya memungkinkan untuk dibuat hal serupa. Namun beberapa hambatan yang ada diantaranya ;
– Kendala penetrasi internet daerah adalah infrastruktur. Saat ini Telkom sebagai salah satu Internet Service Provider (ISP) dengan telkomnet instan / Flexy nya diberbagai daerah, namun masih belum bisa menjangkau wilayah pinggiran/pelosok
– Untuk menyiasatinya mungkin perlu dibuat koneksi non kabel ( wireless ), misalnya mengambil koneksi langsung ke satelit kemudian membuat access point dan membangun beberapa repeater didaerah tersebut, namun membuat koneksi model seperti ini memakan biaya yang tidak sedikit
– Mahalnya biaya bandwith juga berperan mengambat penyebaran internet
– Terlepas dari ada atau tidaknya koneksi internet, hal mendasar yang perlu diingat adalah tidak semua orang mengerti perlu tidaknya internet bagi kita. Saat ini yang cukup ironis banyak guru yang merupakan ujung tombak pendidikan masih awam apa itu internet.

Membangun Wide Area Network
Wide Area Network (WAN) merupakan jaringan (network) komputer yang luas secara geografik. Maksudnya, satu WAN terdiri dari dua atau lebih local-area networks (LAN). LAN itu jaringan komputer yang tidak luas, misalnya kebanyakan LAN terbatas di satu gedung atau beberapa gedung saja. Komputer-komputer yang disambung ke wide-area network sering dihubungkan melewat jaringan umum (public networks), seperti sistem telepon (internet).
Sejak dibukanya kran licensi 2,4 GHz oleh pemerintah bagi kepentingan industrial, scientific, dan medical (ISM) merupakan celah positif bagi perkembangan penetrasi internet. Salah satu butir kepmen 2 Tahun 2005 tentang pita frequency ini menyebutkan bahwa pihak yang menggunakan frequensi ini dibebaskan dari biaya hak penggunaannya (BHP) namun harus mematuhi aturan yang ada sehingga tidak terjadi tumpang tindih antar pemakai dalam channel/frekuensi yang sama.

Dalam membangun Cyber City penggunaan wire (kabel) untuk dapat menjangkau daerah yang cukup jauh jelas tidak mungkin, solusinya adalah menggunakan koneksi wireless. Pengalaman penulis membuat koneksi dibeberapa tempat seringkali terbentur kondisi geografis. Koneksi yang menggunakan radio frekuensi 2.4 – 2.4835 GHz ini menggunakan metode Line of Sight (LoS) alias tidak boleh ada sesuatu yang menghalangi dari radio pemancar (access point) hingga ke client bridges, baik itu gedung, pohon maupun bukit. Jika kebetulan diantara Access Point hingga ke Client menjumpai kendala seperti di atas solusinya kita perlu membuat repeater.
Contoh kecil di Banyumas sendiri sebenarnya sudah ada WAN Banyumas (www.ictpurwokerto.net) yang dimotori oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas yang saat ini beranggotakan beberapa sekolah SMA/SMK/SMP, warnet dan beberapa institusi swasta. Melalui WAN ini sekolah-sekolah yang terkoneksi dapat memanfaatkan berbagai fasilitas yang ada, misalnya e-learning maupun sistem informasi sekolah online
Yang menjadi masalah sekarang ini mungkin mahalnya biaya pembuatan tower dan perangkat radio. Namun jika semua pihak mau duduk bersama, solusi jitu membangun Wide Area Network maupun RT/RW Net adalah patungan. Untuk masing-masing dinas/instansi/rumah yang lokasinya berdekatan dengan acces point/repeater dan jaraknya kurang dari 100 meter cukup menggunakan kabel UTP. Selebihnya perlu disiasati menggunakan pipa sebagai tiang antena dan radio selama masih dalam radius Line of Sight (LoS). Ini artinya satu masalah teratasi.
Awalnya Wireless Radio 2.4 GHz ini dijual mencapat belasan juta rupiah sepasang. Namun dengan semakin banyaknya vendor yang memproduksi radio ini harga barang ini turun hingga kisaran Rp 500.000,- hingga Rp 1 jutaan per unitnya.
Cyber City adalah kebutuhan dan bukan proyek sesaat

Yang cukup disayangkan, pada banyak kasus yang kami amati dibeberapa daerah membangun Wide Area Network sebagai pondasi Cyber City hanya dijadikan proyek sesaat. Bisa jadi proyek ini awalnya tidak diikuti dengan konsep yang matang dari pemerintah setempat. Anda saja ditiap kecamatan tersedia akses wireless ke Pemerintah Daerah setempat, proses urusan KTP, perijinan dan lainnya akan dapat selesai dalam waktu singkat. Dalam kasus ini intranet/internet sebagai alat bantu TI akan mendorong e-Government & efisiensi proses. Masalah akan timbul ketika teknologi komunikasi informasi ini tidak diikuti dengan kualitas SDM yang memadai. Tidak sedikit alat bantu TI mangkrak karena tak ada maintenance yang berkelanjutan.
Mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan sudah saatnya membentuk komunitas yang lebih luas. Bergabungnya beberapa LAN sekolah dalam sebuah Wide Area Network memberikan kemudahan bagi guru dan peserta didik. Proses pembelajaran tak harus bertatap muka. Guru, peserta didik dan masyarakat luas jagat maya yang berminat atau memang memerlukannya, dapat ikut memanfaatkan materi-materi kuliah yang disajikan on-line yang pada umumnya berbasis web tidak perlu lagi dibatasi oleh ruang dan waktu seperti pada cara-cara konvensional sekarang ini. Hadirnya konsep e-learning lewat Course Management System (CMS) yang banyak dimotori oleh gerakan open source makin mempermudah transformasi pembelajaran. Konsep e-learning yang dapat kita download gratis diinternet seperti http://www.moodle.org, http://www.atutor.ca menawarkan begitu banyak kemudahan dalam proses transformasi ilmu. Jika menemui hambatan cobalah subscribe dimailing-list yang banyak bertebaran diinternet, banyak rekan yang siap membantu didunia maya. Yah itulah fungsi internet mampu menjembatani konvergensi teknologi komunikasi dan informasi.


Responses

  1. seya terkesan atas rublik ini , pertanyaan saya jika saya mau membuat koneksi dengan 2.4 ghz dimana saya bisa dapatkan toolsnya……. erima kasih

  2. Berdasarkan pengalaman kami, cara terbaik belajar instalasi wireless 2.4 gh adalah praktek langsung. Lagi pula banyak produk baru dgn harga bersaing dgn kualitas yg lumayan. Baca dgn seksama manual CD ybs.

  3. Semoga mahasiswa jardiknas 2007 dan 2006 yang lain bisa mencontoh dari mas sunarto. Hidup Jardiknas

  4. Makasih atas supportnya mas🙂

  5. Ya, cybercity bukanlah sebuah gaya hidup. Seperti kegemaran gonta-ganti ponsel model terbaru, namun kurang memahami fungsi & fiturnya. Bahkan, tidak membuat orang yg berkepentingan menjadi lebih mudah berkomunikasi dg pemiliknya.
    Salam kenal.

  6. mas gimana cara u memperpanjang radius hotspot engenius EOC-2610????? mohon bantuan segera


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: