Oleh: sunarto | Maret 28, 2008

Shalat Jum’at

Acara rutin jumat siang adalah shalat jum’at berjamaah. Kali ini saya berkesempatan melaksanakan rukun islam pada masjid di lingkungan kantor dinas pendidikan Banyumas.

Namun ada yang sedikit mengganggu kekhusuan jum’atan kali ini. Seperti biasanya, setiap hari jumat, sebagian besar karyawan di lingkungan kantor mengenakan pakaian olah raga dari pagi sampai jam pulang kantor. Ketika waktu adzan tiba, (mungkin) tidak sadar pakaian yang dikenakan muadzin tidak pada tempatnya, maksud saya kurang pas jika digunakan untuk shalat. Terpampang gambar binaragawan di kaos (punggung) muadzin (iyah, binaragawan pasti hanya menggunakan pakaian dalam saja) dengan ukuran yang cukup jelas dilihat. Meski sebatas gambar siluet ini jelas mengganggu jemaah yang ada. Mudah2an ini bukan kesengajaan.

Topik yang diulas Khatib Jum’at kali ini masih seputar Maulid Nabi Muhammad SAW, Inti dari pesan-pesan yang disampaikan khatib kurang lebih sebagai berikut ;

“Ritual” memperingat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahunnya dilakukan. Yang cukup disayangkan makna dari kegiatan itu sendiri tidak sepenuhnya diresapi secara mendalam, tapi justru hanya kegiatan serimonial belaka. Padahal banyak sekali hikmahnya yang dapat kita ambil.

Menurut Khatib (maaf saya tidak tahu namanya), kegiatan maulid SAW, merupakan peringatan yang harus dipahami sebaik mungkin. Karena melalui kegiatan seperti itu, keimanan dan ketaqwaan seseorang dapat ditingkatkan. Karena di balik peringatan Maulid ini, memiliki banyak makna yang bisa kita serap. Misalnya bagaimana nikmat Allah SWT diberikan kepada manusia yang berlimpah. Akan tetapi sayangnya, nikmat itu oleh manusia justru sering tidak disyukuri dengan baik.

Bahkan tidak banyak manusia yang menjadi khufur, tidak sadar akan kehidupan dunianya. Seolah-olah dia itu tidak akan pernah mati. Padahal perlu diketahui, manusia hidup di dunia hanyalah sementara.

Ironisnya lagi, banyak yang mengejar-ngejar harta, pangkat, kedudukan, serta berbagai kenikmati duniawi yang bersifat sementara. Kita harus mengetahui dan sadar, kalau semua itu tidak akan dibawa ketika meninggal dunia. Dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu, bisa diambil hikmah. Melalui peringatan itu juga, Khatib mengajak semua jamaah yang hadir untuk selalu mencintai Allah SWT. Karena ajaran Rasullah memang demikian adanya. Kalau, ummat sudah mencintai Kholiq-Nya, otomatis Sang Pencipta akan mencintainya juga.

Selain itu banyak peringatan dan resepsi yang belakangan marak namun tidak sesuai dengan anjuran Rasulullah, seperti standing party ucap Khatib sambil kemudian menutup khutbahnya.

Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya, Amin

 

 


Responses

  1. Ya, umat muslim memang sedang dilanda multikrisis.
    Dan hal itulah salah satu yang mendorong saya membuat blog an-Najwa
    Hehehehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: